Susi Songket lahir bukan dari kemewahan modal, melainkan dari keprihatinan seorang ibu yang ingin menjaga masa depan keluarganya. Berbekal pengalaman sebagai buruh tenun dan tekad yang bulat, ia memulai perjalanan ini dengan modal Rp1.500.000 menenun sendiri di rumah, merangkap peran sebagai ibu, istri, dan pengrajin.
Hasil tenunan pertama dititipkan di sanggar dan Dekranas. Kepercayaan pasar datang, semangat pun tumbuh. Dari keberhasilan awal itu, lahirlah sebuah gagasan mulia: mengajak ibu-ibu rumah tangga lain bergabung agar mereka pun dapat berkontribusi pada ekonomi keluarga tanpa harus meninggalkan kewajiban di rumah.
Inilah fondasi Maison Susi Songket: bukan sekadar usaha, melainkan gerakan pemberdayaan yang berakar dari empati dan kearifan.